TEKNOLOGI
TRADISIONAL

Pusaka Puputan Badung: Merawat Bali dari Jakarta

Picture 6

Jenazah Raja Badung Gusti Gede Ngurah Denpasar (Koleksi KITLV)

 

Dirampas dan dibawa ke Belanda, tetapi bisa disaksikan di Museum Nasional. 

 

Oleh Nusi Lisabilla E. / Kurator Museum Nasional

Sudah lebih dari seabad, Museum Nasional Jakarta menyimpan Pusaka Kerajaan Badung hasil jarahan aksi militer Belanda dalam tragedi Puputan Badung yang terjadi di Bali. Koleksi ini terdiri dari keris, tombak, tandu, aneka perhiasan, peralatan upacara, dan peralatan menginang (makan sirih). 

Sebagian besar barang koleksi itu memiliki kualitas yang sangat baik dari segi bahan maupun teknik pembuatannya. Penggunaan emas dan batu permata (berlian, kecubung, dan mirah) pada beberapa benda pusaka menandakan betapa Kerajaan Badung sangat makmur dan memiliki cita rasa seni yang tinggi.

Dianggap membangkang

Pada Mei 1904, sebuah kapal saudagar Tionghoa karam di Pantai Sanur, Badung. Saat itu, Belanda menuduh rakyat Badung menjarah kapal tersebut dan meminta Raja Gusti Gede Ngurah Denpasar bertanggung jawab. Sang Raja tegas menolak. Ia dan para punggawa justru menolong awak kapal yang terluka. Belanda mengartikan ini sebagai pembangkangan terhadap pemerintah Hindia Belanda. Maka, pada 14 September 1906, di bawah pimpinan Mayor Jenderal M.B. Rost van Tonningen, pasukan militer Hindia Belanda tiba di Sanur dan menyerang kerajaan. 

Bersama para pengikutnya, Raja menghadapi serangan itu hingga titik darah penghabisan dengan berbekal senjata seperti keris, tombak, dan senjata tradisional lainnya. Perjuangan sampai akhir hayat seperti ini dikenal dengan nama “puputan”.

Pembagian koleksi

Dalam peristiwa puputan itu, harta pusaka kedua puri kerajaan, yaitu Puri Denpasar dan Puri Pemecutan, diserang, dijarah, dan pada 1908, dikirim ke dua tempat: Bataviaassch Genootschaap van Kunsten en Wetenschappen (cikal bakal Museum Nasional) dan Belanda. Berdasarkan catatan yang ada, 410 benda rampasan dibawa ke Belanda untuk disimpan di beberapa museum.

Dari hasil pembagian tersebut, Rijks Ethnograpisch Museum (Museum Volkenkunde, Leiden) menerima 186 benda, antara lain 43 keris, dan 67 wastra. Juga berbagai perhiasan serta peralatan menginang, dan daun pintu Puri Denpasar yang penuh ukiran indah, yang ditemukan dan diselamatkan oleh seorang pelukis dan pengumpul benda-benda etnografi Belanda bernama W.O.J. Nieuwenkamp.

Museum Bataviaasch Genootschap menerima 241 koleksi, terdiri dari 60 senjata (keris, tombak dan beberapa senapan), 32 perhiasan, 58 peralatan upacara, 20 peralatan menginang, 60 wastra, dan tandu raja dari Puri Pemecutan.

Pertemuan bersejarah

Pada Oktober 2005, Museum Nasional dan Rijksmuseum Voor Volkenkunde menyelenggarakan pameran bersama bertajuk “Warisan Budaya Bersama”. Salah satu tema yang diangkat adalah “Eskpedisi Militer Belanda”, yang juga mengedepankan peristiwa Puputan Badung. Pameran yang sama kembali digelar di Nieuwe Kerk, Amsterdam pada Desember 2005 dengan judul “Discovery of the Past”. Ini berarti, koleksi Puputan Badung yang telah 99 tahun terpisah antarbenua, bertemu lagi dalam area ruang pameran. Sungguh! Kebersamaan yang sangat dramatis! 

Kini, kita dapat melihat koleksi pusaka Puputan Badung di Museum Nasional, Jakarta. Tapi jangan lupa! Saat membuai mata kita dengan keindahan koleksi bersejarah ini, ingatlah pengorbanan Raja Badung dan pengikutnya, yang pantang menyerah dalam membela kebenaran, berjuang keras demi tanah air kita! 

 

Editor Theresia Widiningtyas | Nuria Soeharto 

 

Tulisan asli

Lisabilla E., Nusi. 2021. “Keris Puputan Badung: Refleksi Perjuangan Hingga Titik Akhir”. Jakarta: Museum Nasional


 

Author:

IndonesianaTV

30 Agustus 2021

overlay-footer
banner-footer

SIGN UP NOW AND ACCESS OUR FEATURED CONTENT
FOR FREE!

Register Here.