Sulawesi
Tenggara

Benteng Wolio, Pusat Kesultanan Buton di Masa Silam

Selain menjadi sistem pertahanan, benteng ini merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Buton hingga tahun 1960. 

Di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kota Baubau, berdiri sebuah benteng megah peninggalan masa kejayaan Kesultanan Buton. Benteng Keraton Buton atau Benteng Wolio, demikian namanya, mulai dibangun sejak masa pemerintahan Sultan La Sangaji (1591—1597) dan diselesaikan pada masa pemerintahan Sultan La Buke Gafuru Wadud (1632—1645). Benteng ini merupakan sistem pertahanan dari atas puncak bukit terhadap serangan bajak laut serta kerajaan-kerajaan lain seperti Kerajaan Gowa dari Makassar dan Kesultanan Ternate dari Maluku. 

Benteng Wolio dibuat dari batu karang dan batu gunung yang direkatkan dengan pasir dan kapur. Dengan keliling bangunan 2750 meter di atas lahan seluas 23, 375 hektare, Benteng Wolio pernah dinobatkan sebagai benteng terluas di dunia oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dan Guinness Book of Records pada tahun 2006. Benteng ini juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional pada tanggal 28 Mei 2021. 

Sebagai sistem pertahanan, Benteng Wolio dilengkapi dengan 12 baluara (bastion atau sudut benteng) persegi, empat boka-boka (bastion berbentuk bulat), 12 lawana (pintu gerbang), batu tundo (tembok keliling), parit, dan meriam di setiap bastion. Kedua belas lawana di benteng merupakan simbol 12 lubang pada tubuh manusia. Lawana berfungsi menghubungkan keraton dengan kampung-kampung yang berada di sekeliling benteng. 

Di dalam kompleks benteng, terdapat berbagai situs sejarah lainnya yaitu masjid Masigi Ogena (Masjid Agung), Keraton Buton, malige (rumah adat/ kediaman) Sultan Buton, popauna (batu pelantikan raja), makam Sultan Murhum, situs La Tondu (gua Aru Palaka), dan kasulana tombi (tiang bendera berusia 300 tahun). Setiap situs memiliki cerita menarik tentang sejarah Kesultanan Buton, seperti popauna yang merupakan batu tempat pengambilan sumpah raja serta ratu Buton sejak zaman kerajaan dan dilanjutkan ke masa kesultanan. Kesultanan Buton berakhir pada tahun 1960 setelah berubah menjadi kabupaten dan menjadi bagian Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. 

Hingga saat ini, kompleks Benteng Wolio juga berfungsi sebagai pemukiman di bawah wilayah administratif Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau. Para warga umumnya tinggal di rumah panggung tradisional berbahan kayu. Masyarakat di sana masih menerapkan budaya asli yang kerap ditampilkan pada upacara-upacara adat. Oleh karena itu, dengan mengunjungi Benteng Wolio kita bisa berwisata sekaligus mempelajari sejarah dan budaya khas Buton.   
 

Sumber:

Daeng, M. Final dan Nasrullah Nara. 29 Juli 2011. “Benteng Wolio dan Kisah Maritim”. Kompas.com (daring, diakses 9 November 2021) 

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. 19 Oktober 2021. “Benteng Wolio, Peninggalan Kesultanan Buton ditetapkan menjadi Cagar Budaya Nasional”. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 9 November 2021)

Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pustekkom). Rumah Belajar. “Benteng Wolio”. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 9 November 2021)

Foto:

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. 19 Oktober 2021. “Benteng Wolio, Peninggalan Kesultanan Buton ditetapkan menjadi Cagar Budaya Nasional”. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 9 November 2021)


 

Author:

IndonesianaTV

22 November 2021

overlay-footer
banner-footer

SIGN UP NOW AND ACCESS OUR FEATURED CONTENT
FOR FREE!

Register Here.