PENGETAHUAN
TRADISIONAL

Warisan Leluhur Meronai Tenun Sasak

Penenun Sasak di Nusa Tenggara Barat kembali menggunakan pewarna alami, warisan leluhur. 

 

Tenun sangat lekat dengan kehidupan Suku Sasak di Nusa Tenggara Barat. Tenun ada di setiap tahapan kehidupan mereka, mulai dari kelahiran, khitan, pernikahan, hingga kematian. Tenun umbaq yang cantik dengan motif garis-garisnya itu, misalnya, diberikan pada bayi yang baru lahir, sebagai simbol kasih sayang. Tenun itu dipakai untuk menggendong si bayi, dan harus ada dalam upacara praq api atau pemberian nama bayi, juga saat besunat atau sunatan. Intinya, tenun umbaq dianggap sebagai “kawan lahir” hingga harus dirawat dengan baik seumur hidup si anak.   

Tenun juga menjadi elemen penting dalam acara sorong serah aji krama dan nyongkolan pada rangkaian ritual pernikahan masyarakat Sasak. Tenun wajib diberikan oleh keluarga mempelai laki-laki, diserahkan kepada keluarga mempelai perempuan, jumlahnya ditentukan berdasarkan aji krama atau nilai adat yang dimusyawarahkan para tetua. Setelah akad nikah dan sorong serah aji krama ini, nyongkolan pun dimulai, yaitu pengantin diarak ke rumah keluarga istri. Para pengiring perempuan mengenakan baju lambung, baju adat Sasak dari tenun hitam polos berhiaskan songket di tepian, dipadu bawahan tenun ikat atau songket. 

Para perempuan adalah penjaga tradisi tenun Sasak. Dahulu, seorang perempuan Sasak harus bisa menenun. Ia bahkan baru diizinkan menikah setelah pandai menenun. Adat ini masih dijalankan di beberapa desa, seperti Desa Sukarara dan Desa Sade di Lombok Tengah. Di kedua desa tersebut, anak-anak perempuan belajar menenun sejak usia belasan tahun. Seiring perkembangan zaman, tenun yang semula hanya dibuat untuk keperluan adat pun ikut menopang ekonomi keluarga. Saat sedang tidak musim tanam dan panen, para perempuan Sasak memperoleh penghasilan dari menjual hasil tenun pada pengepul atau koperasi, sebagai komoditas pariwisata. 

Pewarna alami

Masyarakat Sasak memiliki dua jenis tenun, yaitu songket dan ikat. Tenun songket biasanya menggunakan benang katun warna-warni, benang perak atau emas serta dipenuhi motif dekoratif, sedangkan tenun ikat lebih sederhana dan fungsional. Tenun songket dibuat dengan alat tenun manual dan tenun ikat dibuat dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Pengerjaan selembar tenun songket berukuran 2-4 meter bisa memakan waktu satu hingga dua bulan, tergantung kerumitan motifnya, sedangkan penenun yang menggunakan ATBM, bisa menghasilkan tiga meter tenun ikat dalam satu hari. 

Untuk meningkatkan nilai tambah tenun, sejak tahun 2013 beberapa perajin tenun Sasak memproduksi tenun ramah lingkungan. Mereka menggunakan benang dari kapas olahan sendiri dan pewarna alami. Proses pengerjaannya memang lebih lama, namun harga hasil tenun ramah lingkungan ini bisa dua kali lipat dari tenun berbahan benang pabrikan. Pemasarannya menyasar konsumen yang menyukai produk ramah lingkungan, khususnya wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Lombok. 

Bahan-bahan pewarna alami tenun berasal dari tanaman di sekitar rumah warga. Warna biru dari daun tarum (indigo), hijau dari kangkung Jawa, merah muda dari kulit pohon banten, kuning dari kunyit, putih tulang dari batang pisang, cokelat dari daun mahoni, dan kuning pudar dari  daun jambu biji. 

Pewarna tenun alami ini sebetulnya telah dipraktikkan para leluhur Suku Sasak. Namun, benang pabrik mengalahkan tradisi tersebut atas alasan efisien waktu dan biaya. Kini, ketika tren gaya hidup “kembali ke alam” banyak diadopsi masyarakat, terlebih kaum muda, tenun Sasak pun merambah ulang tradisi leluhur mereka. Zaman berubah. Zaman berganti. Tetapi leluhur tak pernah mengecewakan kita. 

 

Editor Nuria Soeharto

Sumber:

Anwar, Khaerul. 2019. “Bahan Pewarna Alam Tenun Lombok” dalam Seri Tenun Nusantara: Daya Pikat Tenun NTB, edisi digital, 2019 (40—48)Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Humas NTB. 12 Mei 2015. “Budaya Sasak: Lempot Umbaq”. HumasNTB.blogspot.com (daring, diakses 23 September 2021)

Rakhman, Fathul. 1 Desember 2019. “Para Perempuan Lombok Pelestari Tenun Pewarna Alam”. Mongabay.co.id (daring, diakses 23 September 2021)

Rejeki, Sri dan Dwi As Setianingsih. 3 November 2014. “Lombok Menenun Keindahan”. Kompas.com (daring, diakses 23 September 2021)

Foto:

Shutterstock. 23 Oktober 2018. “Kain Tenun Pringgasela Bisa Dorong Wisata Halal di Lombok”. Tempo.co (daring, diakses 23 September 2021)

Author:

Theresia Widiningtyas

7 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

SIGN UP NOW AND ACCESS OUR FEATURED CONTENT
FOR FREE!

Register Here.