PENGETAHUAN
TRADISIONAL

Perahu Tangguh Kebanggaan Orang Mandar

Ramping tapi kencang melaju di lautan, perahu kebanggaan Orang Mandar di Sulawesi Barat ini sigap mengejar dan menangkap ikan terbang.  

Oleh Retno Handini - Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dan Muhammad Ridwan Alimuddin - Armada Pustaka Mandar

 

Sejak permulaan abad ke-16, 14 kerajaan di wilayah yang kini dikenal sebagai Polewali Mandar, Mamuju dan Majene di Provinsi Sulawesi Barat, bersatu membentuk konfederasi. Seluruh bekas kerajaan tersebut dinamakan Mandar (kuat), penduduknya pun disebut Orang Mandar. 

Suku Mandar telah lama dikenal sebagai pelaut tangguh yang seringkali melintas batas teritorial dalam mencari ikan. Mereka menyeberang ke pulau-pulau lain, sehingga tidak mengherankan jika kemudian ditemukan permukiman suku Mandar di Pulau Kalimantan, terutama di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Dalam mencari ikan atau bepergian dari pulau ke pulau, orang Mandar menggunakan perahu layar bercadik yang disebut sandeq. 

Tercepat di dunia

Dalam bahasa Mandar, nama “sandeq” berarti “runcing”. Bentuk perahu sandeq memang ramping dengan ujung yang runcing. Ukurannya bervariasi, dengan lebar lambung 0,5-1,5 meter dan panjang 5-15 meter. Meski ramping, daya angkut perahu sandeq bisa mencapai ratusan kilogram hingga dua ton lebih. Selain lincah dan cepat, perahu sandeq juga dapat berlayar melawan arah angin, dengan teknik berlayar zig zag yang dalam bahasa Mandar disebut “makkarakkayi”.

Perahu sandeq kebanggaan masyarakat Mandar ini sangat cantik dengan cadik bambu yang dipasang di bagian kiri dan kanan sebagai penyeimbang. Angin yang ditangkap layar mampu mendorong perahu hingga kecepatan 15-20 knot atau 30-40 km per jam. Peneliti asal Jerman, Horst H. Liebner menilai perahu sandeq merupakan yang tercepat di antara perahu tradisional masyarakat penutur Bahasa Austronesia di berbagai belahan dunia.  

Kerampingan perahu sandeq bukan tanpa alasan. Bentuk ini disesuaikan dengan target tangkapan ikan nelayan Mandar, yaitu ikan terbang, ikan tuna, dan ikan pelagis, yang sangat lincah berkejaran di laut lepas. Dengan bentuk rampingnya, perahu sandeq sigap melejit kencang, membantu nelayan menangkap ketiga jenis ikan tersebut.

Hingga ke mancanegara

Telur ikan terbang menjadi tangkapan favorit nelayan Mandar karena nilai jualnya yang tinggi di pasaran. Saat musim ikan terbang bertelur, nelayan melaut dengan perahu sandeq untuk memasang perangkap telur dari rangkaian daun kelapa dan rumput laut. Saat mengejar kawanan ikan tuna, nelayan berlindung di perahu sandeq yang sanggup bertahan menghadapi angin dan gelombang. Para nelayan juga memanfaatkan perahu sandeq untuk berburu rempah-rempah ke Ternate dan Tidore, yang kemudian dijual di Makassar.

Seiring berjalannya waktu, perahu sandeq mulai ditinggalkan. Kekuatan mesin menggantikan fungsi layar dan dayung. Perahu sandeq yang mendominasi perairan Mandar sampai tahun 1980-an, kini berkurang jumlahnya. 

Namun bukan berarti perahu sandeq mangkrak tak lagi berguna. Nelayan Mandar memakainya untuk lomba ketangkasan. Awalnya, lomba ini bersifat lokal dan dilaksanakan saat nelayan libur melaut. Dalam lomba, setiap perahu sandeq harus memutari area yang dibatasi tiga titik, menguji kepiawaian nelayan Mandar sebagai passandeq dalam membaca angin serta bermanuver. 

Lomba perahu sandeq individual kemudian berkembang sebagai agenda tahunan masyarakat Mandar. Festival Sandeq Race yang menjadi agenda wisata tahunan di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, rutin digelar untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Festival ini memperkenalkan perahu sandeq pada dunia internasional. Beberapa perahu sandeq pernah diujicobakan berlayar mengarungi samudera sampai ke Australia dan Amerika. Bahkan pada Festival Maritim Internasional di Prancis tahun 2012, perahu sandeq dipercaya mewakili Asia. Asia! Bukan cuma Indonesia, tetapi Asia!  

 

Editor Theresia Widiningtyas | Nuria Soeharto

Tulisan asli dan foto:

Handini, Retno dan Muhammad Ridwan Alimuddin. 2018. “Sandeq Race: Eksistensi Ketangguhan Pelaut Mandar” dalam Warisan Budaya Maritim Nusantara. Rahardjo, Supratikno et al (Eds.). Hlm. 332-339. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (daring, diakses 22 Agustus 2021)

Author:

IndonesianaTV

9 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

SIGN UP NOW AND ACCESS OUR FEATURED CONTENT
FOR FREE!

Register Here.