TEKNOLOGI
TRADISIONAL

Dibangun Tujuh Tahun, Bertahan Ratusan Tahun

Kekuatan kayu ulin bagaikan besi. Suku Dayak Ngaju pernah memanfaatkannya untuk membangun rumah betang yang bertahan hingga ratusan tahun. Kini, di mana ulin?

Oleh Etha Sriputri - Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur
 

Betang adalah sebutan bagi rumah tinggal Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah. Dan Betang Tumbang Gagu merupakan salah satu rumah betang yang masih bertahan hingga saat ini. Disebut Tumbang Gagu karena letaknya di Desa Tumbang Gagu, Kabupaten Kotawaringin Timur. Betang yang juga dikenal sebagai Betang Antang Kalang ini dibangun selama tujuh tahun dari 1870 hingga 1878. 

Betang Tumbang Gagu berdiri di atas lahan seluas 1.880 m2, di tepi Sungai Kalang. Bangunannya berukuran panjang 58,7 m, lebar 26,4 m, dan tinggi 15,68 m dari permukaan tanah. Pada bagian depan dan belakang rumah terdapat sebuah hejan atau tangga menuju ke dalam betang. Tangga ini terbuat dari kayu ulin utuh setinggi 7,10 m berdiameter 35 cm dan memiliki 20 anak tangga. 

Awalnya, Betang Tumbang Gagu ditempati enam keluarga yang mendirikan bangunan tersebut. Mereka adalah keluarga Boruk Dawut, Pangkong Iding Dandu, Singa Jaya Antang Kalang, Manis bin Lambang Dandu, Rais bin Lambang Dandu, serta Bunter dan Karamu. Dengan alasan ini, Betang Tumbang Gagu dibagi menjadi enam bilik sebagai tempat tinggal masing-masing keluarga.

Sebuah aula dan teras menghubungkan keenam bilik tersebut. Pada sisi belakang dan samping betang terdapat enam dapur, sesuai jumlah keluarga penghuni betang. Saat ini, tinggal dua dapur yang digunakan, sedangkan sisanya sudah tidak layak pakai karena kondisi bangunan yang rusak parah. 

Kelebihan kayu ulin

Bahan utama pendirian Betang Tumbang Gagu adalah kayu ulin dan kayu meranti. Kayu ulin tahan terhadap perubahan cuaca, suhu, kelembapan, dan pengaruh air laut sehingga sifat kayunya sangat berat dan keras. Kayu ini sangat sukar dipaku dan digergaji, tetapi mudah dibelah.

Cara atau teknik pembuatan material kayu untuk mendirikan rumah relatif sama. Kayu yang digunakan bukan dari pohon yang masih hidup, melainkan dari pohon yang sudah roboh atau mati. Bagian kayu keras yang sangat besar dibelah dengan alat yang disebut bajiBaji terbuat dari kayu ulin sepanjang 30–40 cm dan besarnya seukuran pergelangan tangan. Ujung baji yang tajam ditancapkan pada ujung kayu yang akan dibelah, lalu dipukul keras-keras sampai kayu terbelah. 

Proses selanjutnya adalah manarah, yaitu membersihkan atau mengolah kayu mentah tersebut sampai menjadi bahan setengah jadi, dengan alat yang disebut beliung. Setelah itu, kayu dibawa ke desa untuk dibentuk dan dihaluskan sesuai kebutuhan. 

Satu pohon ulin besar bisa menghasilkan empat sampai delapan jihi (tiang penopang utama rumah betang). Ukuran jihi bervariasi antara 3,6-5,8 m dengan diameter 40–60 cm. Sebuah rumah betang bisa membutuhkan ratusan jihi dan tungket (tiang penopang tambahan). Betang Tumbang Gagu, misalnya, memiliki 256 jihi dan tungket dengan ukuran yang bervariasi.  

Biasanya, dalam satu rumah betang terdapat jihi yang dianggap sakral. Jihi keramat Betang Tumbang Gagu berada di tengah bangunan, menopang rumah dari bawah setinggi 3,89 m dan berdiameter 60 cm. Masyarakat setempat memercayai jihi tersebut mempunyai kekuatan penolak bala dan dapat dijadikan obat berbagai penyakit. Lantaran itu, banyak warga yang kemudian mengambil serpihan jihi.

Berkat kayu ulin yang kerap disebut “kayu besi”, Betang Tumbang Gagu mampu bertahan diterpa panas dan hujan hingga ratusan tahun. Namun kini, ketika ratusan tahun berlalu dan kondisi Betang Tumbang Gagu makin memprihatinkan akibat proses pelapukan kayu ulin, di manakah kayu ulin itu? 

 

Editor Theresia Widiningtyas | Nuria Soeharto

Foto:

Indonesiana.tv/Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (daring, diakses 23 Agustus 2021)

 

 

Tulisan asli:

Sriputri, Etha. 7 Juni 2018. “Arsitektur Betang Tumbang Gagu (Kajian Bentuk, Fungsi dan Nilai Penting)”. Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi (daring, diakses 23 Agustus 2021)

 

Penulis:

IndonesianaTV

9 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini