TEKNOLOGI
TRADISIONAL

Bakar Batu Papua: Kobarkan Semangat Lintas Agama

Babi bisa diganti ayam, tapi kebersamaan tak akan pernah tergantikan.

 

Tradisi bakar batu biasa dilakukan dalam upacara-upacara adat masyarakat Papua di pegunungan tengah dan pesisir pantai. Suku Mee di Kabupaten Paniai menyebut tradisi ini gapiia, Suku Dani di Lembah Baliem kit oba isogoa, sedangkan Suku Biak di Pulau Biak dan Numfor barapen. Namun apa pun sebutannya, semua merujuk pada salah satu ritual perdamaian antarsuku: memasak dengan menggunakan batu panas.

Demi ritual perdamaian ini, para kepala suku berburu babi yang merupakan makanan pokok di upacara itu. Biasanya, mereka memanah organ vital babi agar mati seketika. Ini dilakukan berdasarkan kepercayaan bahwa jika babi langsung mati, perdamaian akan berhasil. Sebaliknya, babi yang tidak langsung mati menandakan masih adanya dendam di antara suku-suku yang bertikai. 

Bentuk kebersamaan

Para perempuan memotong daging babi dan menyiapkan ubi jalar, keladi, dan sayuran. Para lelaki mengumpulkan kayu-kayu bakar dan batu-batu besar yang tidak mudah pecah terkena panas. Batu-batu itu disusun di atas kayu, lalu dibakar hingga membara. Saat batu-batu sudah panas, para lelaki menghamparkan dedaunan di lubang yang telah disiapkan, menaruh daging, umbi-umbian dan sayur mayur itu di atasnya, kemudian menumpuknya lagi dengan batu panas, dedaunan, lalu daging, umbi-umbian dan sayuran. Begitu seterusnya hingga tinggi menjulang, ditutup dengan dedaunan dan batu-batu besar untuk menjaga panas. Masakan ini matang dalam waktu 1-3 jam. 

Sementara itu, warga duduk melingkar berkelompok sekitar 10-20 orang. Para lelaki di satu kelompok, perempuan di kelompok lain, juga anak-anak, sesuai tingkatan umur. Ketika acara makan bersama selesai, semua perselisihan juga dianggap tuntas.   

Lintas agama

Tradisi bakar batu dilakukan tidak hanya untuk menyelesaikan konflik tetapi juga untuk mengucap syukur pada Sang Pencipta dalam menyambut panen, merayakan kelahiran dan keberhasilan, atau menyambut tamu yang dihormati. 

Tradisi sakral ini berlangsung turun-temurun hingga kini. Bahkan masyarakat Papua yang beragama Islam pun terus menempatkannya sebagai ritual adat penting dalam keseharian mereka. Warga Kampung Walesi dan Tulima di Kabupaten Jayawijaya, misalnya, melakukan tradisi ini sebagai ucapan syukur atas datangnya bulan suci Ramadan. Daging babi yang biasanya menjadi hidangan utama, diganti daging ayam. Usai makan bersama, warga saling bermaafan, baik pada sesama umat Islam maupun dengan kerabat kristiani. 

Zaman berganti. Tradisi menyesuaikan diri. Namun misi tak akan pernah bersalin. Damai dan harmonis, itu yang akan terus terjalin. 

 

Editor Nuria Soeharto

Foto: Kemdikbud/Indonesiana.TV

 

Sumber:

Janur, Katharina. 26 April 2019. “Barapen, Ritual Perdamaian dan Seruan Bersaudara di Papua”. Liputan6 (daring, diakses 18 Agustus 2021) 

Kustiani, Rini (Ed.). 27 April 2020. “Tradisi Bakar Batu di Lembah Baliem Papua, Babi Diganti Ayam”. Tempo (daring, diakses 18 Agustus 2021) 

Mapioper, Dominggus. 17 April 2015. “Tradisi Bakar Batu di Papua”. Jubi Portal Berita Tanah Papua ( daring, diakses 18 Agustus 2021)

Penulis:

Theresia Widiningtyas

7 September 2021

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini