PENGETAHUAN
TRADISIONAL

Areal Persawahan Seperti Jaring Laba-Laba

Sistem pembagian lahan secara adat ini tidak hanya menjamin hak warga, tetapi juga menjadikannya sangat indah!

 

Berkunjung ke Desa Cancar di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, kita akan menemukan areal persawahan yang jika dilihat dari atas bukit, berbentuk seperti jaring laba-laba. Sangat unik! Kekhasan bentuk sawah orang Manggarai ini merupakan hasil sistem pembagian lahan pertanian yang disebut lodok. 

Penduduk Manggarai yang tinggal dalam satu desa biasanya juga merupakan satu keluarga besar dari satu keturunan kakek, yang disebut sebagai satu klan, dan kemudian sering pula dianggap sebagai satu suku. Orang Manggarai memang baru mulai giat menanam padi tahun 1940-an di bawah kepemimpinan Raja Aleksander Baruk, namun sebenarnya, mereka sudah menerapkan lodok sejak ratusan tahun lalu. Lodok dilakukan untuk membagi kebun dan ladang di lahan pertanian komunal atau tanah adat yang dimiliki bersama, yang biasa disebut lingko dalam bahasa Manggarai. Kewenangan pembagian lingko ada pada ketua adat atau Tu’a Teno

Tu’a Teno memimpin rapat yang disebut reke lodok untuk memutuskan jumlah klan yang mendapatkan lahan. Keputusan itu kemudian didiskusikan  Tu’a Panga (pemimpin klan) bersama Tu’a Kilo (pimpinan beberapa keluarga) untuk menentukan anggota klan mana saja yang akan memperoleh lahan. Pendatang pun berkesempatan mendapatkan lahan, misalnya warga klan lain yang sudah menetap di kampung klan pemilik lingko. Dengan begitu, lodok menjamin hak dasar semua warga untuk memperoleh sumber daya lahan pertanian. 

Ukuran jari

Pada hari pembagian, Tu’a Teno bersama Tu’a Golo (kepala kampung), Tu’a Panga, para Tu’a Kilo, dan seluruh warga yang akan mendapatkan lahan duduk melingkar di titik pusat lingko. Titik pusat inilah yang dinamakan lodok. Sebuah lubang dibuat di lodok, lalu Tu’a Teno berdoa agar Tuhan dan nenek moyang melimpahkan rezeki pada warga yang nantinya menggunakan lahan. Setelah itu, sebutir telur diletakkan dalam lubang, dan kayu dari pohon teno ditancapkan di atasnya. Kemudian, tali ditarik melingkari kayu teno, pasak-pasak kecil pun ditancapkan. 

Tu’a Teno mengukur lahan dengan menempelkan jari ke tanah dari pusat lingko. Jarak lima jari disebut moso rembo, jarak tiga jari disebut lide, dan jarak satu jari disebut koret. Banyaknya jumlah jari yang menentukan luas lahan tergantung kedudukan seseorang dalam adat. Pembagian lahan diutamakan untuk para petinggi adat dan kampung seperti Tu’a Teno, Tu’a Golo, Tu’a Panga, dan Tu’a Kilo. Baru setelah itu lahan diberikan pada warga biasa dan pendatang. Lahan yang kecil ada di bagian tengah lingko dan makin ke luar, makin lebar lahannya sehingga dari atas, akan tampak seperti jaring laba-laba yang sangat instagramable! 

Sekarang tanah pertanian adat di Manggarai sudah semakin sedikit sehingga ritual lingko lodok sudah sangat jarang dilakukan. Namun bukan berarti bukti kearifan itu hilang. Dengan angkutan kota, hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari Ruteng untuk mencapai Desa Cancar. Mendakilah ke Puncak Weol, nikmati keindahan sawah jaring laba-laba raksasa, cermati nilai-nilai di balik kecantikan itu, lalu jangan lupa, kirim cerita dan foto-fotonya ke indonesiana.tv!

 

Editor Nuria Soeharto 

Sumber:

Admin. 30 April 2019. “Lodok: Warisan Budaya Pertanian Masyarakat Manggarai”. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Timur (daring, diakses 12 Oktober 2021)

de Rosary, Ebed. 28 Juli 2017. “Sawah Berbentuk Jaring Laba-laba di Manggarai Ini, Hanya Satu-satunya di Dunia”. Mongabay.co.id (daring, diakses 12 Oktober 2021)

Yoga. (tanpa tanggal). “Begini Proses Pembagian Lodok Lingko di Manggarai”. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai (daring, diakses 12 Oktober 2021)

Foto:

de Rosary, Ebed. 28 Juli 2017. “Sawah Berbentuk Jaring Laba-laba di Manggarai Ini, Hanya Satu-satunya di Dunia”. Mongabay.co.id (daring, diakses 12 Oktober 2021)

 

Penulis:

IndonesianaTV

9 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini