KABAR
BUDAYA

"Di Tepi Sejarah", Sisi Lain Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Ada yang baru di Indonesiana.TV! Empat episode dalam satu seri monolog “Di Tepi Sejarah”, akan mengajak kita berpikir kembali tentang sebuah perjuangan kemerdekaan Indonesia. 

 

Sejarah bangsa kita sesungguhnya lebih besar, lebih megah dan lebih kaya dari sekedar yang disebutkan dalam buku pelajaran sekolah. Pelaku sejarah kita bukan hanya yang sekelas Gajahmada, Tjoet Nyak Dien, atau Pattimura saja. Banyak tokoh yang kehadirannya tidak terangkat dalam narasi besar sejarah bangsa Indonesia. Padahal seringkali, mereka adalah orang-orang yang berada di pusaran sejarah utama dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa besar yang telah membentuk Indonesia. Memahami kisah-kisah mereka memberi sudut pandang baru tentang sebuah sejarah bangsa. Bangsa kita. Indonesia.  

Itulah semangat yang diusung oleh Titimangsa Foundation, KawanKawan Media, serta Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia dalam bekerja sama mempersembahkan Seri Monolog “Di Tepi Sejarah”. Pentas monolog ini mengangkat kisah empat sosok pelaku sejarah pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, yang hampir tak pernah didengar masyarakat Indonesia. 

Episode 1 “Nusa yang Hilang” dengan Kamila Andini sebagai sutradaranya, bercerita tentang Muriel Stuart Walker (Chelsea Islan), perempuan Skotlandia yang besar di Amerika, kemudian hijrah ke Bali tahun 1932. Muriel yang berganti nama menjadi Ketut Tantri banyak membantu perjuangan rakyat Indonesia mencapai kemerdekaan. Dari Bali, ia bergabung dengan para pejuang di Surabaya dan membawakan siaran propaganda berbahasa Inggris di radio gerilyawan.

Episode 2 “Radio Ibu” disutradarai oleh Yustiansyah Lesmana (teater) dan Yosep Anggi Noen (visual), berkisah tentang Riwu Ga (Arswendy Bening Swara), lelaki kelahiran Sabu, NTT ini adalah mantan pelayan, pengawal, dan sahabat Bung Karno, yang menjadi petani jagung di masa tuanya. Di pondok kebun jagungnya, ia terus mendengarkan radio peninggalan istri pertama Presiden Soekarno, Ibu Inggit Garnasih untuk memastikan masa depan cerah Indonesia sesudah merdeka, seperti mimpi-mimpi Bung Karno. 

Episode 3 “Sepinya Sepi” besutan sutradara Heliana Sinaga (teater) dan Yosep Anggi Noen (visual), mengangkat kisah seorang perempuan tua Tionghoa, The Sin Nio (Laura Basuki). Di masa revolusi, The Sin Nio menyamar sebagai laki-laki dan memakai nama Moechamad Moechsin agar bisa ikut membela Indonesia sebagai prajurit. Ironisnya, di masa kemerdekaan The Sin Nio amat sulit memperoleh pengakuan atas pengabdiannya itu. Hingga ia menua, The Sin Nio teguh menjaga masa lalunya, meski harus ditelan kesepian. 

Episode 4 “Amir, Akhir Sebuah Syair” buah karya sutradara Iswadi Pratama (teater) dan Yosep Anggi Noen (visual), menceritakan Amir Hamzah (Chicco Jerikho), seorang sastrawan “Pujangga Baru” yang berjuang untuk Indonesia melalui sajak, roman, risalah, dan kisah-kisah. Di akhir hidupnya, ia dipancung seorang algojo bernama Ijang Widjaja, guru silat Amir di masa kanak-kanak. Ijang dipenjara karena mencabut nyawa Amir, namun setelah dibebaskan ia menjadi gila lantaran terus dihantui rasa bersalah. 

“Sudut pandang lain dalam melihat peristiwa sejarah yang ditawarkan seri monolog ini menunjukkan bahwa kontribusi sekecil apapun dalam perjuangan kemerdekaan juga begitu berarti,” kata Hilmar Farid, Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, dalam keterangan tertulis. 

“Setiap episode dimainkan hanya oleh satu orang pemain agar terasa intim dan personal membawakan makna tentang kemanusiaan,” ujar Happy Salma, produser dari Titimangsa Foundation. 

“Komponen seni pertunjukan seperti visual dan bunyi diharapkan menjadi stimulus bagi penontonnya untuk mencari tahu lebih banyak tentang kisah yang diangkat,” tambah Yulia Evina Bhara, produser dari KawanKawan Media.

Keempat episode Seri Monolog “Di Tepi Sejarah” dapat disaksikan di indonesiana.tv melalui siaran televisi jaringan Indihome saluran 200 (SD) dan 916 (HD), atau di useetv

Episode 1 “Nusa yang Hilang” tayang perdana Rabu, 22 September 2021, pukul 20.30—21.30 WIB. 

Episode 2 “Radio Ibu” tayang perdana Kamis, 23 September 2021, pukul 20.30—21.30 WIB.

Episode 3 “Sepinya Sepi” tayang perdana Jumat, 24 September 2021, pukul 20.30—21.30 WIB.

Episode 4 “Amir, Akhir Sebuah Syair” tayang perdana Sabtu, 25 September 2021, pukul 20.30—21.30 WIB.

Jadi, jangan ketinggalan! Resapi kisah-kisah yang memberi pemahaman dan sentuhan baru pada sejarah kita. Yang tak bernama, bisa sangat bernilai! Dan buat yang menyukai seni teater, beritahu kami pendapat kalian tentang bentuk pentas monolog ini!

 

Editor Nuria Soeharto

Desain poster Gandhi Setyawan
Foto Poster Adrian Mulya, Riordan Antonio, Eric Persley


 

Penulis:

IndonesianaTV

22 September 2021

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini