CAGAR
BUDAYA

Percandian Batujaya, Jejak Kerajaan Tarumanagara

Di Karawang, Jawa Barat, ada tinggalan yang merekam interaksi kita dengan budaya asing, cikal bakal Kerajaan Hindu-Buddha Tarumanagara.

 

Karawang. Lumbung padi nasional kita sejak masa kolonial hingga akhir tahun 1980-an. Karawang. Simbol perjuangan dalam puisi legendaris Chairil Anwar, Karawang Bekasi. Karawang. Lokasi situs percandian Buddha tertua di Jawa yang menjadikan kawasannya sangat istimewa bagi arkeologi Indonesia. 

Situs yang terletak di Kecamatan Batujaya dan Pakisjaya ini disebut percandian karena terdiri dari sekitar 40 candi yang tersebar di areal seluas 337 hektare. Dari penggalian yang dilakukan sejak 1985 oleh tim arkeologi Universitas Indonesia, baru sebagian candi yang tuntas pemugarannya, di antaranya Candi Jiwa dan Candi Blandongan. Percandian Batujaya diperkirakan dibangun antara abad ke-5 dan ke-7, lalu dibangun kembali pada abad ke-8 hingga ke-10. 

Para arkeolog menemukan sejumlah bukti yang menegaskan Percandian Batujaya adalah situs pemujaan agama Buddha. Di sekitar bangunan Candi Jiwa yang berbentuk stupa dan tidak memiliki tangga itu, misalnya, ditemukan pradaksina patha atau jalan setapak yang dipakai penganut Buddha melakukan ritual keliling candi. Pada Candi Blandongan, ada cerukan di keempat sisinya, yang diperkirakan menjadi tempat arca-arca Buddha berukuran besar. Selain itu, di areal situs ditemukan prasasti-prasasti berisi ajaran tentang “Dharma” atau “Kebenaran”, serta votive tablet (simbol Buddha berukuran kecil dari tanah liat) yang dipakai dalam upacara-upacara agama Buddha. Temuan-temuan ini menempatkan Percandian Batujaya sebagai situs Buddha tertua di Jawa dibanding candi-candi Buddha lainnya yang diperkirakan dibangun pada abad ke-8 dan ke-9. 

Budaya asing

Percandian Batujaya juga mengungkap peradaban manusia prasejarah di kawasan tersebut. Dari situs percandian ditemukan sejumlah rangka manusia beserta bekal kubur berupa wadah tembikar. Selain itu ada pula kapak batu neolitik, alat-alat logam, manik-manik dari batu dan kaca, serta pecahan keramik dan tembikar. Pecahan keramik ini diduga berasal dari Dinasti Han di Cina. Sementara tembikar itu dihias dengan teknik roulette, yaitu menekan alat semacam roda pada permukaan tembikar sehingga menghasilkan bingkai simetris. Teknik ini berasal dari Arikamedu, India Selatan. Tinggalan budaya India juga terlihat pada manik-manik batu yang ditemukan. Lewat tes karbon, rangka manusia beserta semua artefak tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-2 hingga ke-4.

Manusia prasejarah di kawasan Batujaya dikenal dengan istilah Masyarakat Buni, yaitu kelompok manusia prasejarah yang berkembang di sepanjang pantai utara Jawa Barat mulai dari daerah Buni (Bekasi) sampai Cilamaya (Karawang). Tinggalan-tinggalan India dan Cina di Situs Batujaya mengindikasikan bahwa Masyarakat Buni sudah berinteraksi dengan budaya asing sekitar abad ke-2 hingga ke-4. Periode ini dianggap sebagai transisi dari masa prasejarah ke sejarah, karena pada abad ke-4 muncul Kerajaan Tarumanagara yang daerah kekuasaannya meliputi sebagian besar Jawa bagian barat, termasuk Bekasi dan Karawang. 

Kontak awal Masyarakat Buni dengan dunia luar pada awal abad Masehi tersebut berkaitan dengan perdagangan maritim. Masyarakat Nusantara prasejarah memiliki kemampuan berlayar dengan perahu cadik, sehingga mungkin saja sudah terlibat dalam perdagangan hingga ke India dan Cina. Sebaliknya, pencarian rempah-rempah yang dilakukan pedagang India dan Cina juga mendorong mereka pergi ke wilayah Nusantara. Selain pedagang, pendeta Hindu dan Buddha juga kerap ikut dalam ekspedisi pencarian rempah-rempah tersebut. Interaksi ini mengawali pertumbuhan kebudayaan Kerajaan Tarumanagara yang bercorak Hindu-Buddha. 

Dulu, perdagangan membuat leluhur kita bersentuhan, berkenalan, dan berkelindan dengan budaya asing. Kini, teknologi membantu memaparkan kita pada banyak budaya di luar yang kita ketahui.  Tanpa perlu bertemu muka atau hadir di daerah asalnya, kita dapat mempelajari budaya-budaya lain. Coba saja tonton Kanal Budaya Indonesiana.tv di jaringan televisi Indihome saluran 200 (SD) dan 916 (HD), atau masuk ke situs Indonesiana.tv. Berapa banyak kelompok budaya yang bisa kita pelajari? Seberapa kaya negeri ini? Ayo, selami ragam budaya kita!

 

Editor Nuria Soeharto

Sumber:

Indradjaja, Agustijanto. 2014. “Awal Pengaruh Hindu Buddha Di Nusantara”. KALPATARU, Vol. 23 No.1 (17–34) (daring, diakses 4 Oktober 2021)

MetroTVNews. 2 Juni 2015. “Jejak Buddha di Karawang”. YouTube.com (daring, diakses 4 Oktober 2021)

Putri, Risa Herdahita. 24 Juni 2021. “Kerajaan Tarumanagara dalam Berita Cina”. Historia.id (daring, diakses 4 Oktober 2021)

Foto:

Direktorat Pelindungan Kebudayaan. 15 April 2019. “Resmi! Kompleks Percandian ini Sudah Menjadi Cagar Budaya Nasional”. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 4 Oktober 2021) 

Penulis:

IndonesianaTV

8 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini