PUSTAKA
NUSA

Surat Ulu Menantang Para Ahli Aksara Kaganga

Harta terpendam dari Sumatra Selatan ini kadang terperangkap sebagai warisan keluarga. Bila dibuka, dunia akan kiamat!

 

Surat ulu merupakan naskah kuno produk tradisi tulis Sumatra Selatan yang menggunakan aksara Kaganga. Kata “ulu” dilekatkan pada naskah-naskah ini karena tradisi tulisnya dahulu berkembang di daerah permukiman hulu-hulu sungai atau daerah ulu

Di Sumatra Selatan, manuskrip surat ulu tersebar antara lain di daerah Lahat, Pagaralam, Lintang, Rawas, Lubuklinggau, Muaraenim, Prabumulih, Danau Ranau, Komering Ulu, dan Komering Ulu Timur. Masyarakat Sumatra Selatan juga menyebut surat ulu dengan berbagai nama, seperti naskah Kegenge, serat ulu, gelumpai (untuk naskah yang ditulis di bambu), dan kakhas atau kaghas (untuk naskah yang menggunakan kulit kayu). 

Bahan naskah

Ada empat material yang biasa digunakan sebagai bahan naskah surat ulu, yaitu bambu, kulit kayu, tanduk, dan kertas Eropa. Manuskrip yang berbahan bambu terbagi dalam dua jenis, gelumpai dan surat boloh. Gelumpai terbuat dari satu ruas bambu yang dibelah menjadi beberapa bilah, lalu diikat menjadi satu, sedangkan surat boloh terbuat dari satu ruas atau lebih bambu utuh. Tulisan pada gelumpai dan surat boloh digoreskan dengan pisau atau besi yang diruncingkan.

Cara penulisan yang sama diterapkan pada surat ulu berbahan tanduk kerbau. Aksara dituliskan pada seluruh permukaan tanduk, dari pangkal menuju ujung tanduk. Pada surat ulu berbahan kulit kayu, aksara dituliskan dengan tinta dari getah tanaman. Surat ulu yang biasa disebut kakhas ini umumnya berbentuk lembaran-lembaran seperti buku dan terbuat dari kulit kayu yang ditumbuk kemudian dikeringkan. Setelah kedatangan bangsa Eropa ke Sumatra Selatan, surat ulu pun mulai menggunakan kertas. 

Menyimpan kearifan lokal

Hingga saat ini, belum banyak kajian yang mempelajari isi surat-surat ulu. Meski sejarawan memperkirakan surat ulu berjumlah ratusan hingga ribuan, penyimpanannya tercecer di dalam dan luar negeri. Kebanyakan surat ulu ditemukan dalam kondisi tidak utuh. Selain itu, sangat sedikit orang yang mampu membaca dan menerjemahkan aksara Kaganga. 

Faktor lain yang membuat surat ulu sulit dikaji adalah kepercayaan masyarakat Sumatra Selatan yang mengeramatkan naskah kuno tersebut. Surat ulu banyak disimpan sebagai warisan keluarga dan biasanya dipegang oleh Jurai Tue, laki-laki keturunan langsung pendiri desa atau dusun. Lantaran dianggap keramat, orang di luar pewarisnya dilarang membaca surat ulu. Surat ulu hanya boleh dibuka pada waktu tertentu dengan sejumlah ritual, di antaranya menyembelih kerbau. Bahkan, ada yang beranggapan membuka surat ulu akan mendatangkan kiamat, sehingga tidak menyentuhnya sama sekali!

Padahal, menurut Ahmad Rapanie Igama, pemerhati surat ulu dan aksara Kaganga, surat ulu menyimpan kearifan lokal dan budaya Sumatra Selatan. Beberapa manuskrip berisi ilmu pengobatan, strategi berperang, dan ilmu agama. Ada pula yang menggambarkan pertukaran kebudayaan dan perkembangan peradaban masyarakat Sumatra Selatan, seperti pada teks sebuah gelumpai koleksi Museum Balaputra Dewa, Palembang. 

Gelumpai yang terdiri dari 14 bilah bambu tersebut beraksara Kaganga, namun menggunakan bahasa Jawa. Isinya menceritakan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai pembawa ajaran agama Islam. Naskah ini memberi gambaran percampuran kebudayaan Melayu – Jawa – Islam yang ikut membentuk karakter kebudayaan Sumatra Selatan.   

Cerita masa lalu seperti ini sungguh tak ternilai harganya, harta yang bermanfaat untuk merajut masa depan bangsa. Amatlah disayangkan bila harta itu terus terpendam, bahkan terkubur selamanya. 

 

Editor Nuria Soeharto

 

Sumber:

Detik News. 27 Oktober 2007. “Kiamat Jika Membuka Surat Ulu”. Detik.com (daring, diakses 25 Agustus 2021)

Igama, Ahmad Rapanie. “Surat Ulu: Tradisi Tulis Masa Lalu Sumatra Selatan” (daring, diakses 25 Agustus 2021

Sarwindaningrum, Irene. 23 Maret 2011. "Menelusuri Jejak Samar Naskah Ulu". Kompas.com (daring, diakses 25 Agustus 2021)

 

Foto: Igama, Ahmad Rapanie. “Surat Ulu: Tradisi Tulis Masa Lalu Sumatra Selatan” (daring, diakses 25 Agustus 2021


 

Penulis:

Theresia Widiningtyas

21 September 2021

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini