PUSTAKA
NUSA

Jamu dalam Manuskrip Nusantara

Naskah-naskah kuno mencatat khasiat tanaman obat dan cara penggunaannya. Tidak hanya di Jawa, tetapi juga berbagai daerah Nusantara. 

 

Jamu atau obat herbal tradisional kembali naik pamor sejak pandemi COVID-19 karena masyarakat meyakini khasiatnya yang bisa meningkatkan imunitas tubuh. Sesungguhnya, pemanfaatan tanaman sebagai obat sudah berlangsung ratusan tahun. Sejak budaya tulis menguat, ramuan dan cara pengobatan tradisional tersebut dicatat dalam berbagai manuskrip. Pengetahuannya diwariskan turun temurun, bahkan ada yang digunakan sebagai dasar pengembangan produksi obat-obatan herbal secara modern. Berikut ini sejumlah manuskrip Nusantara yang memuat jenis-jenis tanaman obat serta cara penggunaannya. 

Serat Centhini

Serat Centhini ditulis pada tahun 1814 berdasarkan perintah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV, yang akhirnya bertakhta menjadi Sunan Pakubuwana V (1820-1823). Selain mencegah dan menyembuhkan penyakit, ramuan obat yang ditulis dalam Serat Centhini juga ada yang berfungsi untuk merawat kesehatan dan mempercantik diri. Cara penggunaan ramuan obatnya pun bermacam-macam, mulai dari ditempelkan pada dahi, diminum, dikunyah, dioleskan pada badan, hingga disemburkan pada bagian tubuh. 

Lontar Usada Taru Pramana

Lontar Usada Taru Pramana mencatat berbagai jenis tanaman obat dan penggunaannya dalam pengobatan tradisional Bali. Bagian tumbuhan yang digunakan dapat berupa akar, batang, daun, bunga, buah, dan getahnya. Pemanfaatan tanaman obat tersebut di antaranya berbentuk loloh, yaitu ramuan pekat yang diperoleh dari meremas-remas atau menggiling bahan-bahan dan diminum setelah dicampur air. Selain loloh, ramuan obat juga berbentuk boreh (dibalurkan pada tubuh), sembar/simpuh (dikunyah lalu disemburkan pada bagian tubuh), tutuh/pepeh (perasan bahan diteteskan pada bagian tubuh), serta tampel/tempel (menempelkan ramuan di pusat nadi). 

Lontara’ Pabbura

Dalam kultur Bugis, kata “obat” disebut pabbura. Lontara’ Pabbura mencatat berbagai pengajaran tentang dedaunan, akar-akaran, biji-bijian yang mempunyai khasiat pengobatan. Cara mengobati sariawan, misalnya, tertulis: Pannessaenggi pabburana narekko mpennoi lilae. Unyyi matteppunnge risapuiyyanngi. Artinya kurang lebih: Bila ada bercak di lidah atau sariawan, cukup gunakan serbuk kunyit. Atau cara mengobati sakit perut: Pannessaenggi pabburana lasa cikae, daung kiloro rinasu silaong uwae nappa riinung. Maksudnya, resep obat sakit perut adalah daun kelor dimasak dengan air lalu diminum.

Kitab Tib

Kata ‘tib’ berasal dari bahasa Arab yang mengandung makna ‘obat’, ‘tukang obat’, ‘surat obat’, dan ‘ilmu perobatan’. Kitab Tib diperkirakan ditulis antara tahun 1889 hingga awal 1890-an, dengan aksara Arab dalam bahasa Melayu, berbahan kertas Eropa. Kitab ini berisi lebih dari seratus resep dan doa yang berkaitan dengan pengobatan hingga jampi-jampi memikat lawan jenis. Contohnya, ada 11 jenis ramuan obat panas yang salah satunya adalah campuran adas manis, limau purut, dan cendana yang dihaluskan, lalu dibalurkan ke seluruh tubuh.  

Ini baru sedikit dari kekayaan manuskrip mengenai pengobatan tradisional. Bila ada penelitian berkelanjutan terhadap manuskrip lain, atau jenis dan khasiat tanaman obat warisan leluhur melalui bukti tertulis lain, bisa jadi muncul terobosan baru bagi dunia kesehatan modern yang akan lebih mengharumkan rempah Indonesia di dunia internasional!     

 

Editor Nuria Soeharto

Sumber:

Putra, Komang. 2020. “Lontar Usada Taru Pramana”. KomangPutra.com (daring, diakses 15 September 2021)

Putri, Risa Herdahita. 9 April 2020. “Naskah-naskah Tentang Jamu”. Historia.id (daring, diakses 15 September 2021)

Purba, Mauizzati & Kenik Sintawati. 2016. Ramuan Obat Tradisional Indonesia: Serat Centhini, Buku Jampi dan Kitab Tibb. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan (daring, diakses 15 September 2021)

Sangaji, Ruslan. 2020. “Konsepsi Lontara’ Pabbura dan Tib Al-Nabawiy: Kontinuitas dan Diskontinuitas Tradisi Pengobatan Pada Masyarakat Bone”. Fikri: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya Vol. 5, No. 1, Juni 2020 (83—96). Metro Lampung: Institut Agama Islam Ma'arif NU (daring, diakses 15 September 2021)

Syahri, Aswandi. 29 April 2018. “Kitab Tib, Manuskrip Obat dan Ilmu Tradisional Melayu”. JantungMelayu.com  (daring, diakses 15 September 2021)

Foto:

Serat Centhini: 

BPNB D.I. Yogyakarta. 21 Maret 2019. “Serat Centhini, Karya Besar Sastra Jawa Lama”. Info Budaya. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 15 September 2021)

Lontara’ Pabbura:

Khasanah Pustaka Nusantara (Khastara). 2021. Lontarak Pabbura. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (daring, diakses 15 September 2021)

 

Penulis:

Theresia Widiningtyas

7 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini