JALUR
REMPAH & MARITIM

Meri Totora, Putri Kehidupan Fakfak

Di Fakfak, Papua Barat, pohon pala dipandang sebagai putri yang memberikan penghidupan bagi masyarakat.

 

Nama Papua nyaris tak pernah disebutkan dalam wacana Jalur Rempah. Padahal, komoditas dari Papua juga berkontribusi pada terciptanya ketersambungan antarwilayah serta jejaring pelayaran dan perdagangan Jalur Rempah Nusantara. Kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca, misalnya, menuliskan para pedagang Jawa membeli pala, kulit kayu masohi, dan burung cendrawasih di Semenanjung Onin, Papua Barat, pada abad ke-14. Pedagang dari Maluku juga mencari pala ke Papua karena permintaan rempah-rempah meningkat sejak bangsa Eropa menginjak tanah Maluku di abad ke-16. 

Hingga kini, Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana merupakan penghasil pala di Provinsi Papua Barat. Tanaman pala yang tumbuh di Papua Barat berasal dari jenis Myristica argenta Warb dan sering disebut dengan pala Fakfak. Bedanya dengan pala Banda dari Maluku yang bulat, buah pala Fakfak berbentuk lonjong dan tekstur kulitnya kasar seperti parutan. Di Kabupaten Fakfak, 80 persen lahan ditumbuhi pohon pala, bahkan logo daerah bergambar tanaman rempah ini. 

Dianggap putri 

Masyarakat Fakfak sudah membudidayakan pala secara turun temurun. Mereka memiliki tradisi panen pala yang disebut meri totora. Pala dianggap sebagai putri hutan atau putri gunung yang memberikan penghidupan bagi masyarakat. Setiap mulai masa tanam dan masa panen, ritual meri totora dilaksanakan sebagai bentuk penghargaan pada tanaman pala, juga harapan agar masa panen selanjutnya memberikan hasil yang lebih berlimpah. 

Dalam ritual, tetua adat membungkus pohon pala dengan kain putih, memberikan sesajen seperti makanan, lalu membacakan mantra dan doa-doa. Di lain pihak, keluarga pemilik kebun memberikan kain atau baju lengkap pada saudara perempuan kepala keluarga yang biasanya laki-laki. Pemberian hadiah pada saudara perempuan ayah ini berdasarkan kepercayaan bahwa pohon pala merupakan putri (perempuan), sehingga bila saudara ayah tersebut hatinya senang, pohon-pohon pala akan banyak berbuah. 

Ritual meri totora dilanjutkan dengan musyawarah pembagian hasil panen. Setengah bagian panen untuk pemilik kebun (ayah dan keluarga inti), sedangkan setengah bagian lagi dibagi merata pada saudara-saudara perempuan ayah. Namun jika ada keluarga atau saudara yang membutuhkan dana maka sebelum panen, keluarga akan bermusyawarah dan memberikan dua pertiga panen bagi keluarga/saudara tersebut sedangkan sepertiga sisanya dibagi untuk saudara yang membantu panen. 

Diganti derma

Dahulu, para petani mulai memanen pala berdasarkan aturan adat, yaitu jika ada sekitar 100 buah pala jatuh dari pohon dengan sendirinya. Ini merupakan pertanda buah pala sudah tua dan siap dipanen. Akan tetapi, kini aturan tersebut mulai ditinggalkan petani dengan alasan banyak pencurian pala, sehingga pala dipanen sebelum cukup tua. Selain itu sekarang juga makin banyak pedagang yang membeli pala mentah langsung ke dusun pala. 

Ritual meri totora pun makin jarang dilaksanakan. Terlebih dengan perkembangan zaman dan masuknya agama, ritual memberi sesajen pada pohon pala mulai ditinggalkan, digantikan dengan memberi derma dari sebagian hasil penjualan panen untuk masyarakat yang membutuhkan atau disumbangkan ke rumah ibadah. 

Zaman berubah. Pemikiran dan sudut pandang, juga sikap dan perilaku, tak lagi sama. Dilema pun muncul. Beradaptasi mengikuti era baru mungkin berarti memupus tradisi, tetapi meneruskan tradisi bisa jadi mengucilkan diri. Namun apa pun pilihannya, pala Fakfak akan terus merupakan putri kehidupan bagi penduduk Papua. Keberadaannya di Jalur Rempah Indonesia akan memberi nilai sempurna. 

 

Editor Nuria Soeharto

Sumber:

Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Papua. 25 September 2020. “Webinar Jalur Rempah 25 September 2020”. Kanal YouTube BPNB Papua (daring, diakses 12 November 2021)

International Labour Organization & United Nations Development Programme. 21 Desember 2013. “Kajian Pala dengan Pendekatan Rantai Nilai dan Iklim Usaha di Kabupaten Fak-fak: Laporan Studi”. ILO.org (daring, diakses 12 November 2021)

La Amisa, Hani. 28 September 2021. “Mengenal Tradisi Fakfak ‘Meri Totora’”. RRI.co.id (daring, diakses 12 November 2021)

Rahawarin, Yohanes Y, et al. 29 September 2017. “Kearifan Lokal Teknik Pemanenan Pala oleh Masyarakat Kampung Adora Us Distrik Teluk Patipi Kabupaten Fak-Fak”. Prosiding Seminar Nasional Pertanian Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Musamus Merauke (10—19) (daring, diakses 12 November 2021)

Foto:
Gusti Tanati (Antara). 30 Desember 2020. “A Sustainable Pathway for Papuan Nutmeg”. TheJakartaPost.com (daring, diakses 12 November 2021)

 

Penulis:

IndonesianaTV

8 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini