JALUR
REMPAH & MARITIM

Mengembalikan Kejayaan Jalur Rempah

Jalur Rempah membentuk peradaban dunia. Nusantara, poros utamanya.  

 

Rempah ada di mana-mana.  Rempah tidak pernah hanya menjadi bumbu masak.  Rempah menggeliat sebagai obat, sebagai bahan baku upacara keagamaan, sebagai ramuan untuk penguburan jenazah.  Rempah bernilai jauh melebihi logam mulia. Singkat kata, rempah adalah komoditas yang amat dicari. 

Di belahan dunia barat, rempah sangat sulit dicari. Namun, di Nusantara kita, rempah sangatlah berlimpah. Cengkih, tanaman asli Ternate, Tidore, Moti, Bakian, dan Bacan. Pala, tanaman endemik Pulau Banda. Kemenyan, kamper/ kapur, kayu manis, dan lada, banyak dihasilkan di Sumatra. Sementara cendana, banyak tumbuh di wilayah timur Nusantara.  

Niaga dan budaya

Sejak dulu, rempah menciptakan interaksi antarpedagang dari berbagai penjuru dunia. Kerajaan besar Sriwijaya, Mataram Hindu, Singasari, dan Majapahit menjadikan perdagangan rempah sebagai jalur interaksi utama yang menghubungkan Nusantara dengan Asia Tenggara, Tiongkok, Asia Selatan, Asia Barat, hingga Afrika Timur. Kemudian, bangsa-bangsa Eropa juga mulai tergerak mencari wilayah penghasil rempah-rempah, hingga mencapai kawasan Nusantara.

Dari interaksi perniagaan antarpedagang rempah itu, terwujudlah sebuah jalur atau rute perdagangan. Bersamanya, terjadi pula pertukaran pengetahuan, adat, agama, dan pengalaman yang kesemuanya terangkum dalam jejaring budaya. Dengan kata lain, selain lintasan perdagangan, Jalur Rempah adalah juga lintasan budaya. Dan lintasan budaya Jalur Rempah sangatlah luas, terbentang dari timur Asia hingga barat Eropa, terhubung dengan Benua Amerika, Afrika dan Australia. 

Menghidupkan kemegahan sejarah 

Letak yang strategis di antara dua benua dan dua samudra membuat Nusantara menjadi poros pertemuan para pencari rempah dari berbagai belahan bumi. Jalinan antarbudaya yang berkelindan melalui perdagangan rempah di Nusantara ini pun memberi kontribusi yang sangat bernilai dalam pembentukan peradaban global. Ragam pengetahuan dan kebudayaan yang dihasilkan Jalur Rempah Nusantara tidak hanya berdiri sebagai warisan bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Pengetahuan mengenai sistem pelayaran modern, misalnya, lahir dari persaingan bangsa-bangsa Eropa mencari rempah di seberang lautan. 

Kebesaran dan kemasyhuran Nusantara di Jalur Rempah sepatutnyalah kita angkat kembali sebagai kebanggaan pada negeri dan penghargaan pada para pelaku. Ini kita lakukan dengan mendokumentasikan peran mereka di berbagai wilayah perdagangan rempah, dan merekonstruksi rangkaian benang merah yang membentuk Jalur Rempah. Bayangan dan rasa keagungan ini pastinya menarik banyak anak muda untuk berkreasi dan berinovasi dengan rempah dan warisan budaya kita. Jalinan ini membuat kita menyadari bahwa kejayaan bangsa Indonesia di masa lalu telah menjadi fondasi kita untuk berdiri tegak di masa kini, memberi keyakinan akan masa depan yang gemilang. Merdeka!
 

Sumber:

Septiawati, Tiya. 6 Desember 2020. “Perbedaan Jalur dan Jaringan dalam Perdagangan Rempah”. Jalur Rempah. Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi (daring, diakses 7 September 2021)

Admin. 19 Maret 2021. “Jalur Rempah: Memuliakan Masa Lalu untuk Kesejahteraan Masa Depan”. Jalur Rempah. Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi (daring, diakses 7 September 2021)

“Titik-titik Jalur Rempah”. Tentang Jalur. Jalur Rempah. Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi (daring, diakses 7 September 2021)

Foto:

Admin. 19 Maret 2021. “Jalur Rempah: Memuliakan Masa Lalu untuk Kesejahteraan Masa Depan”. Jalur Rempah. Kementerian Kebudayaan, Pendidikan, Riset, dan Teknologi (daring, diakses 7 September 2021)

 

Penulis:

IndonesianaTV

7 Januari 2022

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini