JALUR
REMPAH & MARITIM

Kololi Kie Mote Ngolo, Berkeliling Pulau Lewat Laut

Pernah mengikuti tradisi mengelilingi gunung berapi lewat laut? Ayo, kita ke Ternate, Maluku Utara!  

Di banyak wilayah negeri kita, gunung berapi dianggap sebagai simbol penguasa alam hingga keberadaannya dipuja dengan berbagai ritual. Masyarakat Ternate di Maluku Utara, misalnya, menghormati Gunung Gamalama yang terletak di tengah-tengah Pulau Ternate dengan melakukan kololi kie mote ngolo. Tradisi berusia ratusan tahun ini secara harfiah berarti “mengelilingi gunung/pulau lewat laut”.

Upacara kololie kie mote ngolo diawali di dermaga depan keraton Kesultanan Ternate. Sultan Ternate, permaisuri, dan perangkat adat kesultanan lainnya menaiki kapal Oti Juanga, kapal utama berukuran paling besar dengan ukiran kepala naga di haluan dan ekor naga di buritan. Oti Juanga juga dihiasi umbul-umbul dan bendera kebesaran kesultanan. Perahu-perahu kecil lainnya disebut oti kora-kora ici dan ditumpangi oleh para fanyira, kepala soa atau ikatan kekerabatan yang terdiri dari beberapa keluarga inti. 

Sebelum berangkat, rombongan kapal berputar tiga kali di dermaga keraton. Dalam setiap putaran, dibacakan doa keselamatan oleh imam besar Masjid Kesultanan Ternate yang bergelar Jou Galem. Setelah itu, rombongan kapal memulai perjalanan, dimeriahkan nyanyian dan iringan alat-alat musik yang ada di setiap kapal seperti tifa, gong, dan fiol (sejenis alat musik gesek). “Eee… kololi kie…. mote ngolo eee…,” begitu para tetua adat bernyanyi.  

Sepanjang perjalanan mengelilingi Pulau Ternate, seluruh kapal berhenti untuk tabur bunga dan memanjatkan doa di beberapa makam keramat atau jere. Setelah beberapa kali perhentian, rombongan singgah di sebuah sumber air di Ake Rica, pesisir pantai Kelurahan Rua. Konon, itulah tempat pembawa agama Islam ke Ternate, Syai’idinaa Maulana Syekh Djaffar Shaddiq pertama kali berlabuh di Ternate. Persinggahan rombongan ke Ake Rica merupakan bentuk penghormatan dan tapak tilas perjalanan Djaffar Shaddiq ke Ternate. 

Saat turun ke pantai Ake Rica, biasanya Sultan Ternate dan segenap tetua adat melakukan upacara Joko Kaha atau injak tanah. Dalam upacara itu rombongan menyantap makanan-makanan adat diiringi musik tradisional. Usai beristirahat dan bersantap bersama, seluruh kapal kembali melanjutkan perjalanan setelah sebelumnya berputar tiga kali di lepas pantai. Prosesi kololi kie mote ngolo berakhir di titik awal perjalanan, dermaga depan keraton Kesultanan Ternate. 

Sekarang, kololi kie mote ngolo dilangsungkan setahun sekali dalam acara Legu Gam atau pesta rakyat Ternate. Lalu pertanyaannya kini, adakah yang tahu, mengapa gunung berapi dianggap sebagai penguasa alam? 

Editor Nuria Soeharto

 

Sumber:

Nurkholis. 8 April 2019. “Kololi Kie Mote Ngolo, Tradisi Menghormati Alam di Ternate”. Gatra.com (daring, diakses 29 September 2021)

Syam, Rizal. 9 April 2019. “Melihat Proses Ritual Kololi Kie di Ternate”. Kumparan.com (daring, diakses 29 September 2021)

“Kololi Kie Moto Ngolo”.  15 Desember 2020. Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 29 September 2021)

 

Foto: “Kololi Kie Moto Ngolo”.  15 Desember 2020. Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (daring, diakses 29 September 2021)


 

 

Penulis:

IndonesianaTV

27 Oktober 2021

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini