JALUR
REMPAH & MARITIM

Kalondo Lopi: Bersatunya Kapal dan Laut

Di Bima, Sumbawa, laut tak akan berarti tanpa kapal, kapal tak akan berarti tanpa laut.

 

Oleh Erli Yetti/Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi

Terletak di timur Pulau Sumbawa, 70% wilayah Bima terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Kondisi geografis ini membuat masyarakat Bima, sejak dahulu kala, terbiasa memiliki dua mata pencaharian sekaligus: petani dan nelayan. Saat menunggu hasil panen, para petani beralih pekerjaan menjadi nelayan, mencari ikan di laut.

Kondisi ini masih bisa kita lihat kini, salah satunya, di Desa Karampi yang berada di pinggir pantai. Meski berada di pesisir, penghidupan utama warga desa adalah petani, bukan nelayan. Warga desa akan melaut ketika menunggu hasil panen. Padi dapat tumbuh dengan baik berkat tanah desa yang subur dan sumber air yang memadai.

Di Bima, ada kelompok masyarakat bernama Sangiang. Sejak dulu, mereka sangat terampil membuat kapal dengan cara tradisional. Ini membuktikan keterikatan masyarakat Sangiang pada laut dan  interaksi mereka dengan masyarakat di wilayah lain melalui laut.

Uniknya, sampai hari ini, para pembuat kapal Sangiang tidak memanfaatkan teknologi modern dalam pekerjaan mereka. Pembuatan kapal dipimpin oleh seorang panggita atau ahli membuat kapal. Dia sangat mumpuni dalam menentukan lunas, bentuk, ukuran, dan keseimbangan kapal.

Pesta rakyat

Biasanya, kapal selesai dibuat dalam waktu 6 – 8 bulan. Seorang keturunan Dallu Abu Wadi, Ayang Saifullah menyebutkan bahwa umumnya, kapal dibuat sebagai kapal kargo dengan biaya sekitar Rp50 miliar (tahun 2016 saat wawancara dilakukan – RED).

Sebelum diturunkan ke laut, pemilik memberi nama kapalnya. Penurunan kapal dilakukan waktu bulan purnama saat air pasang agar kapal mudah masuk ke laut. Proses ini disebut sebagai tradisi Kalondo Lopi.

Bagi warga Sangiang, perahu atau kapal adalah satu dengan laut. Filosofi ini menjadi dasar tradisi Kalondo Lopi. Tradisi ini juga merupakan cara warga menggantungkan harapan kepada Tuhan atas keselamatan dan ketenteraman saat melaut.

Tradisi Kalondo Lopi diawali dengan penyembelihan 10 ekor ayam dalam upacara Soji ro Sangga yang dipimpin panggita. Kepala dan sayap ayam jantan diikat dengan janur kuning di bagian muka kapal, kepala dan sayap ayam betina di bagian belakang kapal, sementara daging ayam dimasak untuk disajikan pada para pendorong kapal di pagi keesokan harinya.

Menurut Ayang Saifullah, upacara Soji ro Sangga itu dilakukan untuk mencegah spirit Kan'an, putra Nabi Nuh Alaihis Salam, ikut naik ke kapal. Kan’an dianggap akan mendatangkan petaka bagi kapal.

Setelah itu, upacara penurunan kapal pun dimulai. Sebelum mendorong kapal ke laut, para warga berkumpul untuk makan bersama yang diselenggarakan pemilik kapal. Oleh karena itu, tradisi ini juga menjadi momen pesta rakyat.

Harapan keselamatan

Usai acara makan bersama, kapal diturunkan dengan katrol. Di bawah kapal, ratusan orang berjaga. Di atas kapal, panggita menyemangati dengan mantra dalam bahasa Bima bercampur Bugis. Para pendorong kapal menyahut dengan berseru, “Le, le, le, le!” Di depan kapal, warga laki-laki menarik katrol, sedangkan di belakang kapal, warga perempuan ikut mendorong memakai bambu.

Ketika kapal sudah di laut, panggita melantunkan doa dan harapan kepada Sang Kapal. Begini bunyinya:

   Nggomi aina lao ntoi

   Nggomo mbali ricu

   Di Dana ro rasa

Artinya:

   Engkau jangan pergi lama-lama

   Kembalilah cepat

   Ke kampung halaman

Doa ini merupakan harapan agar kapal selamat berlayar di lautan dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Ini sering disebut sebagai “mengawinkan kapal dengan laut”. Kapal tersebut diharapkan dapat diterima dengan baik oleh lautan. Makna lain doa ini adalah agar awak kapal kembali ke daratan dengan selamat.

Editor Theresia Widiningtyas | Nuria Soeharto

Foto:  Malingi, Alan. 2016. Berlayarlah dan Jangan Lupa Kembali. Diakses dari blog pribadi Alan Malingi pada 14 Agustus 2021. 

 

Tulisan asli

Yetti, Erli. (nd) Tradisi Kalondo Lopi di Bima. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.  Diakses pada 8 Agustus 2021.

 

Penulis:

IndonesianaTV

27 Agustus 2021

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini