JALUR
REMPAH & MARITIM

Dualisme Rempah Bagar Hiu Bengkulu

Di balik Gulai Bagar Hiu, ada sebuah kejayaan rempah Bengkulu. Namun di sisi lain, bahan utama Gulai Bagar Hiu adalah hewan yang harus dilindungi.

 

Oleh Theresia Widiningtyas

Pada abad ke-5 Masehi, para pedagang dari Kerajaan Tarumanegara datang ke Bengkulu untuk membeli lada. Lebih jauh, rempah yang dibudidayakan di seluruh wilayah Bengkulu ini juga mengundang bangsa Inggris mendatangi Bengkulu. Para penjelajah Inggris memberitakan, lada menjadi barang dagangan utama Bengkulu selain serbuk emas dan sarang burung.

Arsip sejarah menyebutkan, Inggris menandatangani perjanjian pengiriman lada dengan para Pangeran Bengkulu, Sungai Lemau dan Sungai Itam pada Juli 1685. Perjanjian itu mengizinkan Inggris mendirikan fasilitas penunjang di Bengkulu dan menjalin hubungan dagang dengan para penguasa Bengkulu.

Pada 1698, bangsa Spanyol datang membawa bibit pala dan cengkeh, tetapi kedua rempah ini baru mulai diperdagangkan di Bengkulu pada 1703. Pada 1721, Spanyol meninggalkan Bengkulu karena merasa tidak memperoleh banyak keuntungan dari hasil budidaya pala dan cengkeh di sana.

Kini, rempah tidak lagi menjadi komoditas unggulan, namun jejak masa kejayaan perdagangan rempah masih dapat ditemukan dalam budaya Bengkulu, termasuk kulinernya. Mari kita coba menu tradisional Gulai Bagar Hiu.

Bumbu kaya rempah

Seperti namanya, Gulai Bagar Hiu memakai daging hiu sebagai bahan utama. Berbeda dengan gulai Padang, Bagar Hiu tidak dimasak dengan santan melainkan kelapa parut yang disangrai (digoreng tanpa minyak) untuk kemudian dihaluskan.

Sebelum dimasak, daging hiu dibersihkan dengan air jeruk nipis untuk menghilangkan amis. Setelah itu, direbus sekitar 10 menit agar empuk. Aroma amis pada hiu juga akan hilang dengan bumbu tambahannya yang kaya rempah. Lada, pala, cengkeh, dihaluskan bersama bumbu lain seperti laos, ketumbar, kunyit, kemiri, kayu manis, jahe, cabai merah, dan asam jawa. Bawang merah dan bawang putih diiris tipis, begitu juga daun bawang.

Irisan bawang kemudian ditumis, beserta kelapa parut sangrai. Berikutnya bumbu dasar yang sudah halus dimasukkan. Serai dan daun jeruk menyusul. Sesudah tumisan mewangi, daging hiu dimasukkan, tambahkan air secukupnya, lalu direbus sekitar 15 menit. Begitu matang, taburan daun bawang akan menambah citarasa si Gulai Bagar Hiu. Sungguh! Sangat menggugah selera!

Pelestarian hiu

Resep dan keterampilan memasak Gulai Bagar Hiu diwariskan turun temurun. Tidak sembarang orang dapat mengolah daging hiu yang amis menyengat itu menjadi menu lezat. Gulai Bagar Hiu biasanya hanya dijual pada saat-saat spesial. Bulan Ramadan, misalnya. Warga Bengkulu menjadikan Gulai Bagar Hiu sebagai salah satu menu wajib berbuka puasa. 

Keterbatasan daging hiu di pasar menyebabkan menu ini susah diperoleh. Hiu termasuk hewan yang dilindungi dan para nelayan Bengkulu telah menyadarinya. Proses penangkapan hiu pun dilakukan dengan filosofi kearifan lokal. Para nelayan hanya akan menangkap hiu jantan karena hiu betina diperlukan untuk menjaga kelestarian hiu di alam bebas.

Kesadaran dan filosofi kearifan lokal telah menjaga kelestarian hiu di perairan Bengkulu, menyeimbangkan penangkapan hiu dengan pemanfaatannya di meja makan, secara berkelanjutan. Tiga keuntungan pun berkelindan: para nelayan memperoleh pencaharian, publik merasakan nikmat daging hiu, jejak Jalur Rempah terus terpatri dalam menu andalan, Gulai Bagar Hiu. Bengkulu patut dicontoh!

Editor Nuria Soeharto

Foto Totok Wijayanto/Kompas.com

Sumber:

Mulyadi, Yadi (BPCB Jambi). 21 September 2018. “Jalur Maritim dan Perdagangan Rempah di Bengkulu”. Diakses 15 Agustus 2021.

Prayitno, Gigih. 18 Februari 2019. “Mengenal Bagar Hiu, Kuliner Kesukaan Presiden Soekarno pada Masa Pengasingannya di Bengkulu”. Diakses 15 Agustus 2021. 

Putro, Yuliardi Hardjo. 15 Juni 2016. “Ritual Khusus Nelayan Bengkulu Tangkap Anak Hiu”. 

Penulis:

IndonesianaTV

27 Agustus 2021

overlay-footer
banner-footer

DAFTAR ANGGOTA DAN AKSES KONTEN UNGGULAN
SECARA GRATIS

Daftar di sini